Para seniman kehidupan Australia Barat merangkai keajaiban dari kemurnian alam, mengajak Anda mengikuti panggilan Tanah Leluhur.
Dipersembahkan oleh: Carolyn Beasley
Kampanye Walking On A Dream edisi terbaru dari Tourism Western Australia mengajak penonton untuk merasakan pengalaman yang begitu memukau, yang hanya bisa ditemukan di Australia Barat. Dari tahap pembuatan konsep hingga musik orkestra yang ikonik, keindahan Australia Barat dituturkan oleh penduduk setempat yang setiap hari merasakan keajaibannya.
Tim yang menggarap kampanye ini bekerja di bawah arahan Angela Raso, Director of Brand and Creative di Tourism Western Australia.
“Walking On A Dream mempromosikan budaya suku Aborigin, dan menunjukkan bahwa seluruh elemen alam saling berkaitan,” ungkap Angela. “Ketika Anda benar-benar ingin menikmati keindahan alam Australia Barat, Anda akan merasakan pengalaman yang lebih dalam.”
Walking On A Dream Australia Barat
Kampanye baru ini menyajikan konsep yang lebih segar, termasuk versi baru dari lagu ikonik Empire of the Sun, Walking On A Dream.
“Musik ini perlu diolah ulang oleh orang asli Australia Barat,” jelas Angela. “Dan kami menemukan partner terbaik, yaitu West Australian Symphony Orchestra.”
Selain orkestra (yang dikenal sebagai WASO), lagu ini juga menampilkan vokal Billy-Jo Shoveller, orang Karajarri asal Bidyadanga, sisi selatan Broome (Rubibi). Ini adalah pertama kalinya lagu ini dibawakan ulang oleh artis lain, dengan didampingi oleh Luke Steele, vokalis utama band aslinya yang besar di WA. Billy-Jo juga memainkan berbagai instrumen dalam lagu ini, termasuk tapping sticks, bumerang, dan biji-bijian.
“Musik mampu menyentuh hati,” Angela says. “Orang-orang pasti akan mengenali lagu ini, tetapi saat mendengar WASO dan vokal Billy-Jo, suaranya sungguh indah. ”
Angela menjelaskan bahwa pemeran utama dalam kampanye ini merepresentasikan Australia Barat. Nelson Baker adalah orang Aborigin Nyikina asal Broome, sedangkan Angelica Blazeska lahir dan besar di Perth serta memiliki darah keturunan Makedonia. Keduanya lulus dari Western Australian Academy of Performing Arts dan mencerminkan talenta hebat dari Australia Barat.
Wajah baru kampanye ini dibuat oleh The Brand Agency, yang juga menciptakan konsep aslinya. Penulis naskah Alida Henson dan Art Director Stephen Hansen, yang keduanya tinggal di Perth (Boorloo), menjadi pengarah dalam proses kreatif ini.
Di balik layar "Walking On A Dream" bersama Billy-Jo
“Walking On A Dream yang asli memiliki gaya yang cukup unik,” ungkap Alida. “Tetapi Walking On A Dream 2.0 mengusung ‘magical realism’, membuat semuanya hampir terasa nyata. Kisah ini berawal dari pasangan yang mencoba menyatu dengan alam dan Tanah Leluhur. Lalu, Tanah Leluhur menyambut dengan mengajak mereka untuk menikmati keajaiban alam Australia Barat; layaknya sebuah percakapan.”
Kampanye ini mengangkat tema ‘murmuration’, istilah yang biasanya digunakan untuk menyebut kawanan burung yang terbang berkelompok, membentuk satu kesatuan yang memukau. Dalam kampanye ini, fenomena alam menghadirkan keajaiban melalui konsep murmuration.
“Ternyata, fenomena murmuration ini ada di setiap elemen alam,” kata Stephen. “Tidak hanya pada kawanan burung, tetapi juga saat ikan bergerombol, cara kabut turun dari air terjun, atau pasir turun dari bukit pasir.”
Selain visual yang memukau, kampanye ini membutuhkan musik latar yang tepat dan menyentuh hati untuk memperkuat konsepnya.
“Musik ini harus benar-benar mencerminkan alam dan Tanah Leluhur ini,” kata Alida.
Stephen setuju, menyebut bahwa Walking On A Dream versi WASO dan Billy-Jo Shoveller sungguh luar biasa.
“Saya ingat saat berada di ruangan dan mendengar musik itu untuk pertama kalinya,” katanya. “Sangat mengagumkan. Saya begitu terpana.”
Di balik layar "Walking On A Dream" bersama West Australian Symphony Orchestra
Salah satu orang yang terlibat dalam proses aransemen ulang musik ini adalah Joshua Davies, pemain trombon utama di WASO, sekaligus Orkestrator untuk rekaman ulang lagu Walking On A Dream.
“Suatu kehormatan bisa terlibat dalam pembuatan versi orkestra lagu ini,” kata Joshua. “Lagu ini sangat terkenal, dan senang bisa menikmatinya dengan gaya baru.”
Bagi tim WASO, proses rekaman sebuah lagu sedikit berbeda dari penampilan yang biasa mereka bawakan.
“Semua bagian orkestra, mulai dari string, woodwind, brass hingga perkusi, direkam satu per satu menggunakan click track,” kata Joshua. “Ini menarik karena kami biasanya hanya bermain serempak dan menyesuaikan bagian masing-masing dalam aransemen.”
Bagi Joshua, ini juga suatu kebanggaan.
“Kami telah melahirkan banyak musisi berkualitas di sini yang mampu bersaing dengan musisi mana pun dari East Coast,” katanya. “Kawasan ini memiliki banyak talenta.”
Perjalanan dari Tom Price ke Taman Nasional Karijini
Dalam membuat kampanye tentang panggilan Tanah Leluhur, setiap kreator ini telah merasakannya sendiri. Bagi Joshua, versi baru lagu Walking On A Dream membuatnya teringat pada suasana di pedalaman.
“Ada banyak unsur khas daerah setempat dalam lagu ini,” katanya “Beberapa tahun lalu saya pernah berkunjung ke Tom Price dan Taman Nasional Karijini, jadi lagu ini menggambarkan pemandangan khas Australia Barat dengan tanah merah dan lanskap yang unik.”
Bagi Alida, disambut di Tanah Leluhur ini oleh Pemilik Tradisional saat ia berada di lokasi syuting kampanye menciptakan koneksi mendalam.
“Sambutan di Zebedee Springs (di El Questro Wilderness Park) sungguh indah,” kata Alida. “Saya harus kembali untuk benar-benar mengeksplorasi tempat-tempat ini.
Stephen mengatakan bahwa tugas ini membawanya ke alam bak negeri dongeng untuk pertama kalinya, seperti Taman Nasional Mirima di Kununurra (Goonoonoorrang) dan Ningaloo Reef (Nyinggulu) di dekat Exmouth.
“Saat itu saya berpikir, ‘tempat ini, yang telah lama saya tinggali, memang benar-benar unik’,” katanya. “Ini yang membuat saya ingin menjelajahi WA lebih dalam lagi.”
Begitulah Tanah Leluhur ini memanggil, meninggalkan kesan yang mendalam.
Diterbitkan pada Februari 2026.